Saturday, August 8, 2009

Shalat

Shalat adalah pilar utama dalam Islam
disebutkan berulangkali dalam Al-Quran
keutamaan doa ini ada dalam tujuh ratus tempat
tetapi di masjid, apakah kau lihat wajah-wajah muda?

Bersembahyang di masjid akan memberikan 27 kali pahala
berdoa tanpa pamrih dengan maksud menyenangkan Tuhan-mu
ketika kau berjalan menuju masjid, ingatlah
kau akan mendapatkan pahala dan dosamu akan terhapuskan.

Untuk setiap langkah yang akan kau tuju,
ini adalah rahmat dari Allah SWT melalui ciptaan-Nya
Al-Quran telah meramalkan, sebelum ajalmu tiba.

Rasulullah Saw bersabda barang siapa yang meninggalkan shalat,
lima belas hukuman akan kau dapatkan
enam di kehidupan ini, tiga ketika ajalmu tiba
tiga ketika di alam kubur dan tiga ketika hari kiamat.

Dengan meninggalkan shalat Shubuh,
cahaya dari wajahmu akan sirna
hukuman bagi yang meninggalkan shalat Dzuhur
tak akan ada lagi rahmat untukmu.

Lalai shalat Ashar,
kekuatan tubuhmu akan sirna
dengan meninggalkan shalat Maghrib, ingatlah satu hal
kau tidak akan berguna lagi bagi keturunanmu.

Dengan meninggalkan shalat Isya, diakhir hari
kedamaian dalam tidurmu akan sirna
sementara melihat orang tua di pintu masjid
ingatlah sebagai anak muda, pahalamu lebih dari 70 kali lipat.

Dirikanlah shalat tepat waktunya, kerjakanlah dengan hati-hati,
di hari kiamat, Kami akan tanya tentang shalatmu
pada pertanyaan pertama, jadi dengarkanlah saranku ini
shalat adalah kunci untuk menuju surga
sebarkanlah kalimat ini ke saudara-saudara muslimmu
shalat akan memisahkannya dengan yang lain


SHALAT

Shalat is a basic pillar of Islam
It is mentioned again and again in the Quran
The importance of prayer is in seven hundred places
But in the Mosque, do you see many young faces?

Praying in the mosque gives 27 times the reward
Pray with the intention that you're pleasing your Lord
when you walk to the mosque, just remember within
You gain a reward and you're losing a sin

For every step toward your destination
This is a blessing from Allah SWT to his creation
The Quran has foretold, that before you are dead
say your prayers before your prayers are said'

Our Prophet Saw. said about those who miss prayer
fifteen punishments they'll have to bear
six in this life, three on passing away
three in the grave and three on judgements day.

For missing Fajr at the start of the day
the glow of the face is taken away
the punishment for missing the shalat of Zohar
there will be no blessing from your income no more

For missing Asr, the middle prayer of the day
the strength of the body is taken away
by missing Maghrib, remember one thing
you will not be benefited by your offspring.

For missing Ishaa at the end of the day
the peace of your sleep will be taken away
while seeing elders pray at the mosque door
remember as a young person, your reward is 70 times more

read Shalat punctually, read it with care
on judgement day, we will be asked about prayer
that's the first question, so take this advice
Shalat is the key to paradise
spread this word to Moslim sisters and brothers
Shalat will separate Muslim from others

-Part 1, by Anonymous translated by Ahmad-

diambil dari: majalah Percikan iman No. 06 Th. X Juni 2009 M/Jumadits Tsaniyah 1430H

Labels: ,

Wednesday, December 17, 2008

Mencari Sebuah Masjid

MENCARI SEBUAH MASJID
Oleh: Taufiq Ismail


Aku diberitahu tentang sebuah masjid
Yang tiang-tiangnya pepohonan di hutan
Fondasinya batu karang dan pualam pilihan
Atapnya menjulang tempat tersangkutnya awan
Dan kubahnya tembus pandang,
Berkilauan digosok topan kutub utara dan selatan

Aku rindu dan mengembara mencarinya

Aku diberitahu tentang sepenuh dindingnya yang transparan
Dihiasi dengan ukiran kaligrafi Quran
Dengan warna platina dan keemasan
Berbentuk daun-daunan sangat beraturan
Serta sarang lebah demikian geometriknya
Ranting dan tunas jalin berjalin bergaris-garis gambar putaran angin

Aku rindu dan mengembara mencarinya

Aku diberitahu tentang masjid
Yang menara-menaranya menyentuh lapisan ozon
Dan menyeru azan tak habis-habisnya
Membuat lingkaran mengikat pinggang dunia
Kemudian nadanya yang lepas-lepas
Disulam malaikat menjadi renda-renda benang emas
Yang memperindah ratusan juta sajadah
Di setiap rumah tempatnya singgah

Aku rindu dan mengembara mencarinya

Aku diberitahu tentang sebuah masjid
Yang letaknya dimana bila waktu lohor engkau masuk ke dalamnya
Engkau berjalan sampai waktu asar
Tak bisa kau capai saf pertama
Sehingga bila engkau tak mau kehilangan waktu,
Bershalatlah di mana saja di lantai masjid ini,
Yang luas luar biasa

Aku rindu dan mengembara mencarinya

Aku diberitahu tentang ruangan di sisi mihrabnya
Yaitu sebuah perpustakaan tak terkata besarnya
Dan orang-orang dengan tenang membaca di dalamnya
Di bawah gantungan Kristal terbuat dari berlian
Yang menyimpan cahaya matahari
Kau lihat bermilyar huruf dan kata masuk beraturan
Ke susunan syaraf pusat manusia dan jadi ilmu yang berguna
Di sebuah pustaka yang bukunya berjuta-juta
Terletak di sebelah-menyebelah mihrab masjid kita

Aku rindu dan mengembara mencarinya

Aku diberitahu tentang sebuah masjid
Yang beranda dan ruang dalamnya tempat orang-orang bersila bersama
Dan bermusyawarah tentang dunia dengan hati terbuka
Dan pendapat bisa berlainan namun tanpa pertikaian
Dan kalaupun ada pertikaian bisalah itu diuraikan
Dalam simpul persaudaraan yang sejati
Dalam hangat sajadah yang itu juga
Terbentang di sebuah masjid yang sama

Tumpas aku dalam rindu
Mengembara mencarinya
Di manakah dia gerangan letaknya?

Pada suatu hari aku mengikuti matahari
Ketika di puncak tergelincir dia sempat
Lewat seperempat kuadran turun ke barat
Dan terdengar merdunya azan di pegunungan
Dan aku pun melayangkan pandangan
Mencari masjid itu ke kiri dan ke kanan
Ketika seorang tak kukenal membawa sebuah gulungan
Dia berkata:
“Inilah dia masjid yang dalam pencarian tuan”
Dia menunjuk ke tanah ladang itu
Dan di atas lahan pertanian dia bentangkan
Secarik tikar pandan
Kemudian dituntunnya aku ke sebuah pancuran
Airnya bening dan dingin mengalir beraturan
Tanpa kata dia berwudlu duluan
Aku pun di bawah air itu menampungkan tangan
Ketika kuusap mukaku, kali ketiga secara perlahan
Hangat air terasa, bukan dingin kiranya

Demikianlah air pancuran
Bercampur dengan air mataku yang bercucuran.

Jeddah, 30 Januari 1988
Taufiq Ismail

Labels:

Friday, November 28, 2008

Shalat Idul Adha

SHALAT IDUL ADHA

Shalat Idul Adha dilaksanakan pada 10 Dzulhijjah. Secara prinsip, tata cara pelaksanaannya sama seperti pelaksanaan shalat Idul Fitri. Walaupun ada sedikit perbedaan, yaitu:

1. Tidak sarapan sebelum berangkat
Jika sebelum berangkat shalat Idul Fitri Rasulullah SAW sarapan dahulu maka sebelum shalat Idul Adha, Rasul tidak sarapan dan beliau baru makan sepulang melaksanakan shalat (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad).

2. Waktu bertakbir
Waktu takbir pada Idul Adha dari subuh hari Arafah sampai petang hari tasyrik, yakni tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.
Berkata Hafizh dalam al-Fath, “mengenai hal ini tidak ada keterangan berupa hadis dari Nabi SAW. Riwayat yang paling sah adalah yang diterima dari para sahabat Nabi SAW, yaitu keterangan dari Ali bin Abi Thalib r.a. dan Ibnu Mas’ud r.a. bahwa permulaannya adalah semenjak subuh hari Arafah sampai Ashar hari terakhir di Mina (riwayat Ibnu Mundzir, dll). Pendapat ini diyakini kebenarannya oleh Imam Syafi’I, Ahmad, Abu Yusuf, dan Muhammad. Demikian pula oleh Mazhab Umar dan Ibnu Abbas.

Kesimpulannya, takbir hari raya Idul Fitri dimulai ba’da subuh (waktu pergi shalat ied) hingga imam khutbah. SEdangkan takbir Idul Adha dimulai dari subuh hari Arafah sampai terakhir di Mina (9, 10, 11, 12, & 13) Dzulhijjah.

3. Menyembelih Kurban
Selesai melakukan shalat Idul Adha, Rasulullah SAW menyembelih kurban. Penyembelihan ini harus dilaksanakan setelah shalat Idul Adha pada tanggal sepuluh Dzulhijjah sampai tiga hari berikutnya, yaitu pada 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.

Menyembelih kurban bagi orang-orang yang mampu hukumnya Sunnah Muakkadah (sunah yang harus diprioritaskan untuk dikerjakan) (HR. Ahmad dan Ibnu Majah). Pilihlah binatang kurban yang sehat dan gemuk, jangan yang sakit, cacat (buta, pincang, dll.), atau yang sangat kurus (HR. Tirmidzi, ia mengatakan hadis ini sahih hasan).

Satu binatang kurban sudah dianggap mencukupi satu rumah tangga. Artinya, kalau kepala keluarga sudah berkurban, itu dianggap sudah memadai untuk seisi rumah. Namun kalau dalam satu keluarga ada beberapa yang ingin berkurban, tentu ini lebih utama, misalnya yang kurban bukan hanya suami, tetapi juga istri dan anak-anaknya (HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi).
Orang yang berkurban boleh mencicipi daging kurbannya, walaupun yang paling utama seluruhnya diberikan kepada yang berhak menerimanya.

Kurban boleh didasarkan secara berserikat, apabila jenis binatangnya besar
Seperti sapi, unta atau kerbau (HR. Muslim, Abu Daud, dan Tirmidzi). Maksudnya, satu unta atau satu sapi biayanya boleh dipikul oleh tujuh orang. Keterangan ini menunjukkan batas maksimal, artinya boleh juga dipikul kurang dari tujuh orang, bahkan hal itu akan lebih baik karena saham ibadah masing-masing menjadi lebih besar.

Apabila kita berniat berkurban, disunahkan tidak memotong kuku dan rambut sejak tanggal 1 Dzulhijjah hingga binatang kurban itu disembelih (HR. Muslim). Hal ini bukakn menunjukkan syarat sahnya kurban, tetapi sifatnya hanya anjuran (sunah), artinya kalaupun kita memotong rambut atau kuku (padahal sudah berniat berkurban), kurbannya tetap sah.



Sumber:
Agenda Percikan Iman 2008, Panduan Ibadah

Labels:

Shalat Idul Fitri

SHALAT IDUL FITRI

Shalat Idul Fitri dilaksanakan pada satu Syawal. Shalat ini merupakan penutup rangkaian ibadah shaum Ramadhan. Idul Fitri artinya kembali kepada kesucian. Ini ungkapan harapan bahwa shaum Ramadhan yang baru dituntaskan bisa meulihkan kefitrahan (kesucian) kita yang selama setahun telah ternoda dosa dan maksiat.

Idul fitri adalah hari raya Islam. Artinya, hari yang perlu diisi dengan kebahagiaan. Pelaksanaan Idul Fitri dapat dibagi menjadi dua bagian. Pertama yang berkaitan dengan tradisi. Bagian ini tidak diatur secara rinci dalam Al Quran atau sunah, seua dikembalikan pada kebiasaan masing-masing, yang penting tradisi tersebut tidak mengandung kemungkaran.
Kedua, bagian yang ada kaitannya dengan peribadatan. Bagian ini diatur secara rinci dalam sunah Rasulullah SAW

1. Mandi besar
Disunahkan mandi besar sebelum berangkat ke tempat shalat Idul Fitri (HR. Malik)

2. Sarapan sebelum berangkat
Sebelum berangkat ke tempat shalat, disunahkan sarapan (HR. Ahmad dan Bukhari). Rasulullah SAW mencontohkan hal ini karena selama sebulan, perut kita sudah terbiasa diisi makanan saat sahur, kalau tiba-tiba dihentikan, khawatir perut akan kaget sehingga menimbulkan masalah kesehatan. Inilah hikmahnya mengapa disunahkan sarapan sebelum shalat Idul Fitri.

3. Mengenakan busana terbaik
Pada hari raya Idul Fitri, kita diperintahkan untuk memakai pakaian terbaik dan memakai wangi-wangian terbaik (HR. Hakim)

4. Shalat di lapangan
Shalat Idul Fitri dilakukan di lapangan, tetapi kalau tidak memungkinkan, misalnya hujan, boleh dilakukan di asjid (HR. Abu Daud)

5. Menuju lapangan dengan berjalan kaki
Jalan kaki menuju lapangan tempat shalat hukumnya sunah (HR. Ibnu Majah). Walaupun begitu, bukan berarti kita dilarang naik kendaraan ketika pergi untuk shalat Ied. Jalan kaki menuju lapangan adalah keutamaan, bukan kewajiban.

6. Mengambil arah jalan yang berbeda
Bila memungkinkan, hukumnya sunah bila kita mengambil arah jalan yang berbeda ketika pergi shalat ied dan ketika kembali ke rumah (HR. Abu Daud). Namun, kalau tidak memungkinkan, menempuh jalan yang sama pun tidak dilarang dan tidak akan mengurangi nilai ibadah shalat ied. Ini hanya keutamaan.

7. Wanita haid boleh hadir di lapangan
Wanita haid boleh hadir di lapangan untuk menyimak khutbah Idul Fitri, tetapi mereka tidak boleh shalat (HR. Muslim)

8. Bertakbir pada hari raya
Setelah selesai melaksanakan shaum Ramadhan, bertakbirlah (mengagungkan Allah) atas petunjuk yang telah diberikan-Nya agar kita bersyukur (QS. Al Baqarah 2:185). Saat pergi untuk shalat ied, Rasulullah bertakbir dari rumahnya sampai di tempat shalat (lapangan) (Al-Mustadrak ‘alaa ash-shahihain 1:437 no.1105). Jumhur ulama berpendapat, takbir pada hari raya Idul Fitri adalah pada waktu pergi shalat ied sampai dimulainya khutbah. Menurut Imam Hakim, hal ini merupakan sunah yang tersiar di kalangan para ahli hadis. Imam Malik, Ishak, Ahmad, dan Abu Tsaur pun berpendapat demikian.

9. Cara Shalat Ied
Secara prinsip, cara shalat ied sama dengan cara shalat subuh, yaitu dua rakaat. Perbedaannya, dalam shalat ied takbir pada rakaat pertama sebanyak tujuh kali dan takbir pada rakaat kedua sebanyak lima kali (HR. Tirmidzi). Selesai shalat, mendengarkan khutbah ied.

10. Saling mendoakan
Jubair bin Nafi menyebutkan, apabila para sahabat bertemu pada hari raya Idul Fitri, mereka saling mendoakan dengan mengucapkan:
Taqabbalallahu minna wa minkum, artinya: “mudah-mudahan Allah enerima amal ibadah kita.”
Bagaimana cara menjawabnya?
Pertama, jawab dengan ucapan yang sama, yaitu Taqabbalallahu minna wa minkum
Kedua, jawab dengan Shiyamana wa shiyamakum. Artinya “shaum saya dan shaum anda”.
Ketiga, jawab dengan Aamiin. Artinya:”Mudah-mudahan Allah mengabulkan”.
Ketiga jawaban ini bisa dipakai karena tidak ada satupun hadis yang tegas menjelaskan jenis jawabannya. Jadi, silakan pilih mana saja yang paling memungkinkan.



Sumber:
Agenda Percikan Iman 2008, Panduan Ibadah

Labels:

Friday, November 21, 2008

Cara Menghadapi Khanzab, Setan Spesialis Shalat

CARA MENGHADAPI KHANZAB, SETAN SPESIALIS SHALAT

Oleh : Redaksi Ar risalah 19 Aug 2004 - 2:50 pm


Shalat adalah ibadah paling menentukan posisi seorang hamba di akhirat kelak. Jika shalatnya baik, maka baiklah nilai amal yang lain, begitu pula sebaliknya. Wajar jika iblis menugaskan tentara khususnya untuk menggarap proyek ini. Ada setan spesialis yang mengganggu orang shalat, menempuh segala cara agar shalat seorang hamba kosong dari nilai atau minimal rendah kualitasnya. Setan itu bernama 'Khanzab'.

Utsman pernah bertanya kepada Rasulullah: "Wahai Rasulullah, setan telah mengganggu shalat dan bacaanku." Beliau bersabda: "Itulah setan yang disebut dengan 'Khanzab', jika engkau merasakan kehadirannya maka bacalah
ta'awudz kepada Allah dan meludah kecillah ke arah kiri tiga kali." (HR Ahmad)

Utsman melanjutkan: "Akupun melaksanakan wejangan Nabi tersebut dan Allah mengusir gangguan tersebut dariku."


Melafazhkan Niat

Sebagaimana halnya dengan wudhu, serangan pertama yang dilakukan setan kepada orang yang shalat adalah menyibukkan ia untuk melafazhkan niat. Terkadang diiringi dengan gerakan aneh, dia membaca niat lalu mengangkat tangannya, lalu gagal dan diturunkan kembali tangannya. Dia ulangi lagi seperti itu berkali-kali hingga terkadang imam sudah rukuk atau sujud, sementara ia masih dipermainkan setan dalam niat dan takbirnya.

Niat dan usaha menghadirkan hati memang dituntut ketika hendak shalat, namun tak ada tuntunan sedikitpun bagi orang yang hendak shalat untuk melafazhkan niatnya.

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah di dalam Zaadul Ma'ad berkata:

Nabi memulai shalatnya dengan bacaan 'Allahu Akbar', dari Nabi beliau tidak membaca apapun sebelumnya dan tidak melafazhkan niatnya sama sekali. Beliau tidak mengatakan: ushalli.., 'aku niat shalat anu karena Allah menghadap
kiblat empat rakaat sebagai imam (sebagai makmum).." Tidak pula beliau mengatakan 'ada'an' atau 'qadha'an', atau 'fardhan' dan sebagainya. Semua itu adalah bid'ah yang tidak disebutkan sedikitpun dalam hadits yang
shahih, atau dha'if, tidak pula terdapat dalam musnad atau mursal, walau hanya satu kalimat saja. Bahkan tak satupun sahabat mengerjakannya, tidak ada tabi'in yang menganggapnya baik, begitupun dengan empat imam madzhab.

Orang-orang belakangan yang membacanya keliru memahami perkataan Imam Syafi'i yang berbunyi 'shalat itu tidak sebagaimana shaum, tidak ada orang yang memulai shalat kecuali dengan dzikir'. Mereka menyangka bahwa maksud
beliau adalah melafazhkan niat, padahal yang dimaksud tidak lain hanyalah takbiratul ihram."


Ingat Ini..Ingat Itu !

Serangan kedua, setan akan mendatangi orang yang tengah mengerjakan shalat untuk mengingatkan urusan di luar shalat. Maka berapa banyak orang yang jasadnya mengerjakan shalat namun hatinya sibuk menghitung laba rugi perniagaan, mengingat barang yang telah hilang, atau bahkan urusan
'kebaikan' yang tidak ada hubungannya dengan shalat. Tidak heran jika usai shalat seseorang menjadi ingat letak barang yang mana ia telah lupa sebelumnya. Setan rela 'membantu' orang itu untuk mengingatkan dan menemukan barangnya kembali, asalkan shalat yang dikerjakan menjadi rusak dan tidak bermutu.
Pernah di zaman salaf seseorang kehilangan barang, seseorang menyarankan agar ia mengerjakan shalat dan diapun segera melaksanakan shalat. Ajaib, usai shalat tiba-tiba dia beranjak dari tempatnya dan mengambil barang yang telah dia ingat letaknya ketika shalat. Diapun ditanya: "Apa yang Anda dapatkan ketika shalat?" Dia menjawab: "Aku mendapatkan bahwa setan mencuri perhatian saya dari shalat."

Ada yang terlalu asyik dengan khayalan dan pikirannya tentang urusan di luar shalat, hingga dia lupa sudah berapa rekaat yang telah dia kerjakan.

Tentang godaan setan ini, Nabi SAW. bersabda: "Jika adzan untuk shalat dikumandangkan, setan akan lari terbirit-birit sambil mengeluarkan bunyi kentutnya sehingga tidak mendengar adzan. Jika adzan telah usai diapun akan kembali menggoda. Ketika iqamah dikumandangkan setanpun akan lari hingga
usai iqamah setan akan mendatangi orang yang shalat lalu membisikkan ke hati seseorang sembari berkata: 'Ingat ini..ingat itu..' setan mengingatkan apa-apa yang telah dia lupakan hingga seseorang tidak mengetahui berapa
rekaat yang telah ia kerjakan." (HR al-Bukhari)


Ragu antara Kentut dan Tidak

Ada kalanya muncul dalam benak seseorang keraguan, apakah dia kentut ataukah tidak. Ini adalah keraguan yang dihembuskan oleh setan untuk mengacaukan shalat seseorang. Dia tidak lagi konsentrasi dengan shalatnya karena ragu, atau dia akan membatalkan shalatnya, lalu dia berwudhu dan memulai shalatnya lagi, lalu akan digoda lagi dengan cara yang sama.
Sehingga untuk satu shalat dia bisa mengulangi tiga sampai empat kali berwudhu. Bisa dibayangkan, seandainya ada lima orang saja dalam satu masjid yang terkena godaan ini, niscaya cukup membuat kacau jama'ah yang lain.

Untuk menangkal godaan tersebut Nabi memberikan solusi dan informasi: "Jika salah seorang di antara kalian mendapatkan yang demikian itu maka janganlah membatalkan shalatnya hingga dia mendengar suaranya dan mencium baunya tanpa ragu. (HR Ahmad)

Di antara ulama ada yang menyebutkan bahwa hadits ini merupakan salah satu pengecualian dari hadits da' ma yariibuka ilaa ma laa yariibuka, tinggalkan
apa yang meragukan dan ambil sesuatu yang tidak meragukan. Dalam kasus ini kita dilarang membatalkan shalat kendati berada dalam keraguan antara kentut dan tidak, kecuali jika mencium bau kentut atau mendengar suaranya.


Mencuri Perhatian

Kita juga sering melihat atau bahkan mengalami sendiri menengok ketika shalat terkadang tanpa terasa karena terbiasa. Ini juga tak lepas dari serangan setan yang ingin merusak shalat kita. Nabi ditanya tentang orang yang menoleh ke kanan dan ke kiri, beliau menjawab: "Itu adalah setan yang
mencuri perhatian seorang hamba dari shalatnya." (HR Al-Bukhari dan Abu Dawud)

Untuk menangkal serangan ini, hendaknya orang yang shalat berusaha menghadirkan hatinya, bahwa dia tengah berhadapan dengan Allah Yang Maha Berkuasa atas segalanya. Jika Anda malu atau takut menoleh ke kanan dan ke kiri ketika berbicara kepada pejabat, lantas bagaimana halnya jika Anda sedang berkomunikasi dengan sang pencipta dan Penguasa para pejabat itu? (Ar risalah)

Labels:

Shalat-Shalat Sunah

SHALAT-SHALAT SUNAH


1. SHALAT SUNAH RAWATIB

Shalat sunah rawatib adalah shalat sunah yang terikat waktu, yaitu sebelum atau sesudah shalat wajib. Shalat sunah ini tidak sah jika dilakukan di luar waktu shalat tersebut. Kapan sajakah shalat sunah ini bisa dilaksanakan?

a. Qabla Subuh
Dua rakaat shalat sunah qabla subuh lebih baik daripada dunia dan isinya (HR Bukhari). Bacaannya pun adalah bacaan ringan (surat-surat pendek) (HR Muslim). Shalat ini tidak sah dilakukan jika telah terdengar iqamat dan akan dilaksanakan shalat subuh berjamaah karena shalat subuh jauh lebih utama (HR Bukhari). Bagi yang selalu melaksanakannya atau telah berniat, jika tidak sempat melakukannya sebelum shalat subuh, bisa melaksanakannya setelah shalat subuh, tetapi jangan dijadikan kebiasaan (HR Ibnu Khuzaimah)

b. Qabla dan Ba’da Zuhur
Shalat qabla zuhur dilaksanakan sebelum shalat zuhur. Bisa dilaksanakan dua rakaat (HR Bukhari) ataupun empat rakaat (HR Tirmidzi). Sedangkan ba’da zuhur dilaksanakan setelah shalat zuhur, shalat ini bisa dilaksanakan dua rakaat (HR Bukhari) ataupun empat rakaan (HR Ibnu Khuzaimah)

c. Ba’da Maghrib
Jumlah rakaat shalat sunah ba’da maghrib adalah dua rakaat (HR Bukhari)

d. Ba’da Isya
Shalat sunah ba’da isya dilaksanakan dua rakaat

Jadi, kesimpulannya shalat sunah bisa dilakukan 10 rakaat dalam sehari (HR Bukhari, Fiqh Sunnah II:17) atau 12 rakaat dalam sehari (HR Muslim, Fiqh sunah II:18)


2. SHALAT TAHAJUD & SHALAT TARAWIH

Istilah tahajud dan tarawih memiliki pengertian yang berbeda, tetapi cara pelaksanaannya hampir sama. Kedua istilah ini sering juga disebut qiyamul lail (shalat malam)

Tahajud adalah shalat yang dilakukan pada malam hari di luar bulan Ramadhan, yang dilaksanakan setelah shalat isya dan diawali dengan tidur terlebih dahulu.

Allah SWT memuliakan orang yang suka melakukan shalat tahajud, “Dan dari sebagian mala mini gunakanlah untuk bertahajud sebagai shalat sunah bagimu, semoga Tuhanmu akan membangkitkanmu pada kedudukan yang terpuji” (QS Al Isra 17:79)

Shalat tahajud bisa dilaksanakan awal malam (setelah isya), tengah malam, atau akhir malam (menjelang subuh/sekitar jam tiga malam). Namun alangkah baiknya jika shalat tahajud dilaksanakan pada tengah malam yang terakhir (sekitar jam dua atau tiga malam) (HR Ahmad).

Setelah shalat tahajud, kita diperbolehkan untuk tidur lagi (HR Muslim). Jumlah shalat Tahajud adalah sebelas rakaat (HR Muslim). Ada dua cara pelaksanaan shalat tahajud, yaitu 4-4-3 (HR Bukhari, Fathul Bari IV:251) dan 2-2-2-2-3 (HR Bukhari).

Tarawih adalah shalat yang dilakukan pada malam hari di bulan Ramadhan yang dilaksanakan setelah shalat isya. Hukum shalat tarawih adalah sunah (HR Jamaah). Jumlah rakaat dan tata cara pelaksanaan shalat tarawih sama dengan shalat tahajud, yaitu 11 rakaat dengan formasi 4+4+3 atau 2+2+2+2+3. Menurut sebagian besar ulama, shalat tarawih lebih utama dilakukan secara berjamaah di masjid.


3. TAHIYATUL MASJID

Jumlah shalat ini dua rakaat. Shalat ini dilaksanakan setelah kita memasuki masjid sebelum duduk (HR Bukhari). Bagi yang masuk masjid dan tidak berniat duduk dan berada di sana, shalat ini tidak disyariatkan (Mushannaf ibnu Abi Syaibah 1:229 no.3428). Shalat tahiyatul masjid tidak harus sebelum melaksanakan shalat wajib.


4. SYUKRUL WUDLU

Syukrul wudlu dilaksanakan setelah bersuci (berwudlu). Jumlah rakaatnya adalah dua rakaat (HR Bukhari).


5. SHALAT DHUHA

Permulaan shalat dhuha adalah ketika matahari sudah naik kira-kira sepenggal (sekitar pukul 08:00 atau pukul 09:00). Shalat dilakukan dua rakaat (HR Bukhari), empat rakaat (HR Muslim), atau delapan rakaat (HR Muslim), dengan satu kali salam.


6. SHALAT ISTIKHARAH

Ketika menghadapi suatu masalah yang bersifat mubah, dan kita ragu-ragu mana yang sebaiknya dilakukan, disunahkan mengerjakan shalat dua rakaat, yang disebut shalat istikharah. Shalat ini boleh dilakukan kapan saja, dan tidak ada bacaan surat tertentu saat shalat. Adapun doa yang dibaca adalah setelah salam.

Allahumma innii astakhiiruka bi’ilmika wa astaqdiruka biqudratika wa as aluka min fadl likal’azhiimi fa innakataqdiru wala aqdiru, wa ta’lamu wala a’lamu wa anta ‘allaamulghuyuubi, Allahumma inkunta ta’lamu anna hadzaal amra khairun lii fii diinii wama’aasyii wa ‘aaqibati amrii faqdurhulii wayassarhulii tsumma baariklii fiihi wa inkunta ta’lamu anna haadzal amra syarrun lii fii diinii wama’aa syii wa ‘aa qibati arii fashrifhu ‘annaa washrifni ‘anhu wa’qdurliyalkhaira haitsu kaana tsumma ardliniibihi
Artinya:
Ya Allah, aku memohonkan pilihan menurut pengetahuan-Mu dan memohon penetapan-Mu dengan kekuasaan-Mu, juga memohon karunia-Mu yang besar, sebab sesungguhnya Engkaulah yang berkuasa, dan aku tidak mengetahui apa-apa. Engkau Maha Mengetahui segala yang ghaib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa urusanku ini (disebutkan apa urusan itu), baik untukku, agamaku, kehidupanku, serta akibat urusanku maka takdirkanlah untukku dan mudahkanlahserta berikanlah berkah kepadaku di dalamnya. Sebaliknya, jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini (disebutkan apa urusannya) jelek untukku, agamaku, kehidupanku, serta akibat urusanku maka jauhkanlah hal itu daripadaku dan jauhkanlah aku daripadanya. Serta takdirkanlah untukku kebaikan di mana saja adanya kemudian puaskanlah hatiku dengan takdirmu itu (HR Bukhari).


7. SHALAT GERHANA (KUSUF & KHUSUF)

Apabila terjadi gerhana matahari (kusuf) ataupun bulan (khusuf), kita diperintahkan untuk melaksanakan shalat gerhana, bertakbir, berdoa dan mengumpulkan shadaqah (HR Muslim). Cara pelaksanaan shalat wajib, sementara bacaannya tidak ada perbedaan.

Sebelumnya tanamkan niat bahwa kita akan melaksanakan shalat gerhana bulan atau matahari (niat tidak perlu diucapkan, cukup dalam hati).

Rakaat pertama:
a. Takbiratul ihram
b. Membaca doa iftitah (terserah doa iftitah yang mana saja yang kita hafal, bisa Wajjahtu, Allahumma ba’id baini, Subhaanaka Allahumma, dan Allahu Akbar Kabiira)
c. Membaca surat Al Fatihah
d. Membaca surat dalam AlQuran
e. Ruku
f. I’tidal (bangkit dari ruku)
g. Jika dalam shalat wajib setelah I’tidal dilanjutkan dengan sujud maka dalam shalat gerhana, tubuh kembali berdiri tegak dan bersedekap seperti setelah takbiratul ihram, lalu membaca Al Fatihah, surat dalam AlQuran, ruku, kemudian sujud seperti biasa. Urutan 1-7 dihitung satu rakaat. Jadi, dalam satu rakaat ada dua kali ruku dan dua kali sujud.

Rakaat kedua dilaksanakan sama seperti rakaat pertama (tetapi tidak membaca iftitah), kemudian ditutup dengan tasyahud akhir (HR Muslim).



Sumber : Agenda Percikan Iman 2008, Panduan Ibadah

Labels:

Pelatihan Shalat Khusu'



PELATIHAN SHOLAT KHUSU'


Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang


SHALAT

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu , sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (Al Baqarah 2 :153).

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak mereka bersedih hati. (Al Baqarah 2 :277).

Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk .(Al Maa’idah 5:55)

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar . Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al ‘Ankabuut 29:45).


PENDAHULUAN

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’
(Al Baqarah 2 :45).

Berbagai persoalan sering mempengaruhi kita: kegelisahan, kecemasan, putus asa; hingga kita mengalami stress, sakit atau depresi.

Sebenarnya shalat khusyu’ dapat dikembangkan untuk mengatasinya. Rasa khusyu’ bukan diciptakan, hanya dengan memasuki dan menerima saja.

Metodenya secara psikologis dan fisiologis yaitu mempelajari pikiran & jiwa serta posisi tubuh, menerapkan dengan konsentrasi dan kemauan mendekatkan diri kepada Ilahi secara disiplin, maka kita akan melakukan perjalanan ruhani menuju spiritual yang tinggi.

Teknik khusyu’ adalah mengeksploitasi harmoni dan keseimbangan dua hal yang berlawanan: jasmani-ruhani, otak kiri-kanan, energi positif-negatif.

Shalat khusyu’ akan membangkitkan rasa ihsan saat pertemuan dengan Allah. Sebuah pancaran nur ilahi yang menjelma menjadi perilaku akhlaq yang mulia.


SHALAT MERUPAKAN PERJALANAN RUHANI MENUJU ALLAH

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikan shalat untuk mengingat Aku”
(Thaha 20:14)

Shalat merupakan aktivitas menapaki jalan spiritual untuk mempertemukan aku yang fana (diri) dengan Aku yang kekal (kekuatan ilahiah/divine power).

Ketika shalat, ruhani bergerak menuju Zat yang Maha Mutlak. Pikiran terlepas dari keadaan riil dan panca indra melepaskan diri dari segala macam keruwetan peristiwa di sekitarnya.

Shalat memiliki 5 unsur:
- Meditasi atau doa yang teratur.
- Relaksasi dalam gerakan shalat.
- Hetero/auto sugesti dalam bacaan shalat
- Group therapy dalam shalat jamaah
- Hydro therapy dalam wudhu

Islam menempatkan Zat Yang Maha Mutlak sebagai puncak tujuan ruhani, sandaran istirahatnya jiwa, sumber hidup, sumber kekuatan dan sumber mencari inspirasi


SHALAT MERUPAKAN PERTEMUAN HAMBA DENGAN ALLAH TANPA PERANTARA

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh amat berat, kecuali bagi orang-orang khusyu’ yaitu orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemukan Tuhannya dan bahwa mereka kembali kepada-Nya. (Al Baqarah 2:45-46)

Perasaan khusyu’ tidak mungkin bisa didapatkan, jika kita tidak memiliki kesadaran dan kepercayaan, bahwa sebenarnya di saat shalat kita sedang berhadapan dengan Allah.

Saat shalat, jiwa diarahkan kepada Zat yang Maha Tak Terbatas, maka jiwa akan merasa seperti kembali dan tidak terkukung oleh benda yang mengikatnya. Ruh akan mengalami kebebasan, pencerahan dan ketenangan.

“sesungguhnya aku berasal dari Allah dan kepadaNya aku kembali”. Shalat = mi’raj, naiknya ruh meninggalkan ikatan nafsu menuju ke hadirat Allah yang Maha Tinggi.

Shalat khusyu:
- Menimbulkan etos kerja yang profesional dan bertanggung jawab.
- Memberi efek ketenangan, kepuasan dan rasa bahagia.


MENGEVALUASI ULANG SHALAT KITA

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai akan shalatnya, orang-orang yang berbuat riya” (Al Ma’un 1007:4-6)
“Hai orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kalin ucapkan…” (An Nisa’ 4:43)

Hadist Nabi: “Kececeran yang pertama akan kamu alami dari agamamu ialah amanat, dan kececeran yang terakhir ialah shalat. Dan sesungguhnya (akan terjadi) orang-orang melakukan shalat, sedang merekan tidak berakhlak”.

Hadist Nabi: “Amal yang pertama ditanyai Allah pada hamba di hari akhirat nanti adalah amalan shalat. Bila shalatnya dapat diterima, maka akan diterima seluruh amalnya, dan bila shalatnya ditolak akan tertolak pula seluruh amalnya”.

Evaluasi diri dengan pertanyaan:
“Kemana saya harus meminta pertolongan ketika saya gelisah atau ketika saya tidak mampu mengatasi/ menjawab persoalan yang pelik?
Apakah jawabannya shalat?

Kita tidak pernah menyadari untuk memanfaatkan shalat sebagai alat penolong, sumber hidup, penerang jiwa dan tampat kita bertanya tentang persoalan yang sulit dipecahkan.


MENGAPA SHALAT KHUSYU’ SULIT DIDAPAT?

“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” (Al Baqarah 2:185)

Secara fitrah manusia menginginkan ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan dalam hidupnya.
Lantas – sesuatu apa yang hilang?
Apakah shalat hanya beban/kewajiban?
Apakah kita shalat karena takut neraka?

Bagaimana bermeditasi (untuk menemukan atau merebut kembali sesuatu yang hilang)?
Pelaku meditasi: menunjukkan adanya kebahagiaan, perasaan nyaman, ketagihan pada keadaan hening dan damai.

Padahal shalat memiliki manfaat:
- Tuntunan meditasi transendental.
- Efek kesehatan, relaksasi.
- Terapi fisik, pikiran dan jiwa yang sangat sempurna.

Shalat secara sederhana dan konkrit akan membawa kita pada kebahagiaan, ketenangan, cinta dan rindu.
Kita hanya mendapatkan, bukan menciptakan rasa khusyu’


MENCOBA KONSENTRASI

“Berapa banyak orang yang shalat namun hanya mendapatkan rasa capek dan lelah” (HR Abu Dawud).

- Keluhan yang umum saat shalat adalah sulit berkonsentrasi.
- Upaya memperoleh kekhusyu’an dengan konsentrasi selalu berakhir dengan kegagalan, walaupun syariat telah terpenuhi baik bacaan maupun raka’atnya.
- Pikiran pergi kemana-mana, tahu-tahu shalat sudah selesai.

Otak bekerja sendiri-sendiri.
- Otak kiri melakukan yang sekuensial, digital, linier, teratur dan logis (ini yang dilatih).
- Otak kanan dibiarkan liar dan tidak memiliki kemampuan abstraksi, imajinasi, intuisi dan holistik.
- Akibatnya timbul timbul rasa jenuh & capek

Pada saat shalat
- Otak kiri: menghitung, mengatur raka’at & membaca secara verbal setiap kalimat yang dipola & berulang.
- Otak kanan: memahami dengan emosinya, bagaimana Allah hadir menyambut & memberi respon serta mampu merasakan rahmat yang mengalir ke hatinya.

Bila pikiran dan cara berpikir sudah seimbang, tubuh dan jiwa akan mengikuti kehendak pikiran = awareness.
Ini adalah sinergi yang diharapkan dapat menampilkan kualitas shalat kita secara optimal.
= ingat belajar mengendarai mobil=


NIAT

“Sesungguhnya segala perbuatan itu disertai niat. Dan seseorang diganjar sesuai niatnya” (HR Bukhari Muslim).

- Niat bukanlah sebuah bacaan/mantra, tetapi suatu perbuatan yang didalamnya terdapat kesadaran penuh yang mengalir.
- Niat merupakan dasar dan bentuk bagi sebuah perbuatan, dimana perbuatan itu sendiri adalah juga isi dari niat.

Niat adalah kesadaran untuk mempersatukan kegiatan otak kiri dan kanan, sehingga menghasilkan rasa sambung (tuning) dalam shalat maupun ibadah lainnya.
= ingat gerak meditasi Tai Chi=

aktivitas logika (otak kiri) dan holistik (otak kanan) menghasilkan kekuatan (daya) yang luar biasa. 1 / 0 = ~

Nilai etis + perbuatan = moral
Islam mensyaratkan niat sebagai kontrol, apakah masih berada dalam kesadara ihsan?


TUMA’NINAH, SEBUAH TEKNIK RELAKSASI DALAM SHALAT

Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Nabi s.a.w pernah masuk masjid. Nabi bersabda:”Apabila kamu berdiri shalat bertakbirlah, lalu bacalah ayat yang mudah bagimu, kemudian rukuklah sehingga tuma’ninah dalam keadaan rukuk, kemudian bagkitlah I’tidal dalam keadaan berdiri, kemudian sujudlah sehingga tuma’ninah dalam keadaan sujud, kemudian bangkitlah sehingga tuma’ninah dalam keadaan duduk, kemudian sujudlah sehingga tuma’ninah dalam keadaan sujud, kemudian berbuatlah demikian dalam semua shalatmu (HR Bukhari, Muslom & Ahmad).

- Kebanyakan orang mengira bahwa jumlah bacaan dalam setiap gerakan shalat dijadikan ukuran waktu selesainya sikap berdiri, duduk, rukuk maupun sujud.
- Padahal bacaan itu bukanlah sebuah aba-aba dalam shalat kita, sehingga tidak bisa tenang.
- Kebanyakan dari kitapun telah lupa bagaimana caranya rileks, karena kecepatan dan tekanan hidup.
- Setiap bacaan yang diulang merupakan aspek meditasi, autoterapi, autosugesti, berdoa, mencari inspirasi, menunggu intuisi/petunjuk, penyembuhan; bahkan untuk menemukan ketenangan yang dalam.
- Berdiri~ 5 menit, duduk ~5 menit, sujud ~10 menit; total shalat~ 30 menit
- Shalat ? terapi mental & terapi fisik (kendor dan rileks)
- Saat duduk (Iftirasy)-beliau sedang dialog untuk menyelesaikan persoalan yang dirasa rumit dan menunggu jawaban.
- Shalat sebagai alat komunikasi dan memohon pertolongan kepada Allah, serta tempat mengistirahatkan jiwa dan fisik.
- shalat dengan tenang dan rileks akan menghasilkan energi tambahan dalam tubuhnya, shg tubuh terasa segar (fresh)
- Apabila kita melakukan shalat dengan benar, relaksasi yang dalam dan penyerahan total kepada Allah, maka shalat merupakan jalan menjadikan kita berakhlak mulia.


Penelitian otak

Hasil penelitian Alvan Goldstein: Ditemukan adanya zat endorphin dalam otak manusia yaitu zat yang memberikan efek menenangkan yang disebut endogegonius morphin.

Drs Subandi MA, menjelaskan bahwa kelenjar endorfina dan enkafalina yang dihasilkan oleh kelenjar pituitrin di otak ternyata mempunyai efek mirip dengan opiat (candu) yang memiliki fungsi menimbulkan kenikmatan (pleasure principle), sehingga disebut opiat endogen.

Apabila seseorang sengaja memasukkan zat morfin ke dalam tubuhnya, maka akan terjadi penghentian produksi endorphin. Jika pengguna narkoba, menghentikan secara tiba-tiba, orang tersebut akan mengalami sakau (ketagihan yang menyiksa dan gelisah); karena otak tidak memproduksi zat tersebut.

Untuk mengembalikan produksi endorphin di dalam otak bisa dilakukan dengan meditasi shalat yang benar atau melakukan dzikir yang memang dapat memberikan dampak ketenangan.


PERSIAPAN UNTUK LATIHAN RELAKSASI DAN OLAH SPIRITUAL (DZIKRULLAH)

Bentuk aktivitas yang memberi efek relaksasi:
- Merebahkan tubuh
- Berdiri seperti anak balita
- Mendengar suara alam (air, angin, dll)
- Wewangian
- Menguyur dengan air
- Menyentuh/memijat daerah-daerah sensitif (kepala, muka tangan, kaki, dsb)

Aroma therapy:
Aroma mempunyai efek bermacam-macam dan dapat mempengaruhi kejiwaan seseorang
- Membangkitkan gairah seks: bunga mawar
- Menentramkan & hening: lavender
- Suasana meditatif: kayu cendana
Pilih aroma yang membawa ketentraman

Konsep regang, lepas dan rileks adalah hal yang penting dalam relaksasi, yang memungkinkan mengalirkan darah dan mengirimkan energi ke otot-otot yang regang; baik saat berdiri, rukuk, sujud atau duduk.

Jadikanlah shalat sebagai sarana berkomunikasi yang akrab, santai, nyaman dan menyenangkan; untuk mencari ketenangan, kedaimaian dan kesehatan.

Ketenangan pikiran merupakan hal yang terpenting untuk memulai berdialog dengan Allah, sehingga kita bisa menerima kehadiran ilham ke dalam jiwa


WUDHU’ MERUPAKAN SYARAT SAH DAN KESEMPURNAAN SHALAT

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik ; sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni'mat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. (Al Maa’idah 5:6)

“Barangsiapa berwudhu’ lalu dibaguskan wudhu’nya dan dikerjakan shalat dua rakaat, dimana ia tidak berbicara dengan dirinya dalam berwudhu’ dan shalat itu sesuatu hal duniawi, niscaya keluarlah dia dari segala dosanya, seperti hari ia dilahirkan oleh ibunya” (HR Bukhari & Muslim).

Ketika berwudhu’, seyogyanya kita melakukan sebagai bentuk peribadatan seperti halnya shalat; karena wudhu’ merupakan prosesi pembersihan jiwa yang dituntun oleh Rasulullah saw.
Cara ini ditempuh dalam rangka mempersiapkan diri menghadap Allah Yang Maha Suci.

- Kesempurnaan shalat sangat tergantung kepada kesempurnaan wudhu’nya.
- Jika wudhu’nya tidak dalam keadaan ingat kepada Allah, maka tidak akan memberikan dampak apa-apa pada jiwa kecuali basah

Wudhu’ adalah ibadah dzikir yang merupakan sarana pembersihan jiwa, yang dimulai dari sisi paling luar (fisik) sampai ke dalam ruhaninya.
Jiwa yang bersih akan terjalin komunikasi dengan Allah dan mendatangkan sinar dari kebeningan hati.


LATIHAN TAHAP PERTAMA

1. Mulailah dengan mengucapkan “Bismillahirrahmannirrahim”. Hubungkan jiwa anda kepada Allah, rasakan anda sedang melakukan proses pembersihan tubuh dan jiwa.

2. Cucilah kedua tangan dengan air mutlak – pastikan hati tetap tersambung kepada Allah sampai muncul getaran rasa tenang dan sejuk di dada.

3. Bersihkan mulut sebagai bagian proses pembersihan jiwa dengan berkumur-kumur.

4. Bersihkan ke dua lubang hidung – hayati dengan perasaan dan lakukan perlahan, tidak terburu-buru sebab hal ini akan menutup rasa sambung/ingat kepada Allah.

5. Hadirkan jiwa anda kepada Allah, bahwa anda sedang melakukan pembersihan jiwa. Kehadiran jiwa ini akan membuat rasa menjadi sangat hening dan peka serta getaran kesambungan semakin kuat.

6. Basuhlah muka anda dengan air perlahan sekali sambil dirasakan …ulangi 3x

7. Selanjutnya basuhlah kedua lengan sampai siku, mengusap rambut kepala, mengusap daun telinga dan kedua kaki …. Semua dilakukan perlahan. Lakukan dengan tetap tersambung kepada Allah sehingga getaran kekhusyu’an dalam wudhu’ akan terbawa terus sampai kita melakukan shalat.

8. Sempurnakan dan diamlah sejenak lalu berdoa


LATIHAN SHALAT

1. Heningkan pikiran anda agar rileks. Usahakan tubuh kendor sampai terasa nyaman dan tidak perlu mengkonsentrasikan pikiran.

2. Biarkan tubuh meluruh, agak dilemaskan atau bersikap serileks mungkin.

3. Rasakan getaran kalbu yang bening dan sambungkan rasa itu kepada Allah. (Umumnya jika tersambung, suasana sangat hening dan tenang serta terasa getarannya menyelimuti jiwa dan fisik; sehingga pikiran tidak liar).

4. Bangkitkan kesadaran diri, bahwa anda sedang berhadapan dengan Zat yang Maha Kuasa, Yang Meliputi Segala Sesuatu, Yang Maha Hidup, Yang Maha Suci dan Yang Maha Agung.
- Sadari bahwa anda akan memuja dan bersembah sujud kepadanya serendah-rendahnya,dan menyerahkan segala apa yang ada pada diri anda
- Biarkan ruh anda mengalir pergi dengan suka rela menyerahkan diri kepada Allah semata.

5. Berniatlah dengan sengaja dan sadar, sehingga muncul getaran rasa yang sangat halus dan kuat menarik ruhani meluncur kehadiratNya, seraya ucapkan “ ALLAHU AKBAR”.
- Jagalah getaran tadi dengan meluruskan niat: inni wajjahtu wajhiya lilladzi fatharassamawaati wal ardh, haniifan musliman wama ana minal musyikin (sesungguhnya aku menghadap kepada wujud Zat yang menciptakan langit dan bumi dengan selurus-lurusnya dan aku bukan termasuk orang yang syirik).
- Rasakan kelurusan jiwa anda yang terus bergetar menuju Allah, lalu menyerahkan secara total: inni shalati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi rabbil’alamin (sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah semata.

6. Rasakan keadaan berserah masih menyelimuti getaran jiwa Anda.
- Bacalah setiap ayat dengan tartil – pastikan getaran pasrah menyertai bacaan dihadapanNya.
- Kemudian lakukan rukuk, biarkan badan membungkuk dan rasakan – pastikan ruh anda perlahan-lahan turut rukuk dengan perasaan hormat dan pujilah Allah Yang Maha Agung: “subhaana rabbiyal adiimi wabihamdihi”. (jika antara ruhani dan fisik seirama, maka getaran itu akan bertambah besar dan kuat, bertambah kuat pula kekhusyu’an yang terjadi).

7. Setelah rukuk, anda berdiri kembali sambil mengucapkan pujian kepada Zat Yang Maha mendengar:” samiallahu liman hamidah” (semoga allah mendengar orang yang memujiNya)
- Lalu, setelah kedua tangan diturunkan, ucapkan: “rabbana wa lakal hamdu millussamawati wamil ul ardhi wamiluma syi’ta min syai in ba’du” (Ya Tuhan, milikMu segala puji, sepenuh langit dan bumi, dan sepenuh sesuatu yang Engkau kehendaki sesudah itu).
- Rasakan sampai ruhani anda mengatakan dengan sebenarnya (jangan sedikitpun tersisa rasa untuk dipuji, yang terjadi adalah keadaan nol; tidak ada beban kecuali hening).

8. Kemudian secara perlahan bersujud serendah-rendahnya sambil berdzikir: “Allahu Akbar”.
- Biarkan tubuh anda bersujud, rasakan sujud anda agak lama.
- Jangan mengucapkan pujian kedapa Allah Yang Maha Suci “subhanallah wabihambidhi”, sebelum ruh dan fisik anda bersatu dalam satu sujud. (biasanya terasa sekali ketika ruhani memuji Allah dan akan berpengaruh pada fisik, menjadi lebih tunduk, ringan dan harmonis).

9. Selanjutnya, lakukan shalat seperti diatas dengan pelan-pelan, tuma’ninah pada setiap gerakan. Jika anda melakukan dengan benar, getaran jiwa akan bergerak menuntun fisik anda.

Sempurnakan kesadaran shalat anda sampai salam.


LATIHAN DZIKIR

1. Sehabis shalat, duduklah dengan tenang. Rasakan getaran yang masih membekas.
Ruhani anda masih merasakan getaran takbir, rukuk, sujud dan penyerahan diri secara total. (Biasanya, setelah shalat, getaran jiwa anda terus menerus berdzikir, bukan keluar dari pikiran).

2. Pujilah Allah, agar jiwa kita mendapatkan energi ilahi yang membersihkan hati.
subhanallah ….. Subhanallah……… subhanallah…….
Alhamdulillah ….. Alhamdulillah….. Alhamdulillah……
Laa ilaha illallah….. Laa ilaha illallah….. Laa ilaha illallah….
Allahu akbar….. Allahu akbar….. Allahu akbar…..

3.Anda akan merasakan getaran shalat kapan saja, sehingga suasananya menjadi sangat indah dan damai. Dan ketika shalat tiba, getaran itu akan tambah besar dan menjadi tempat persinggahan jiwa untuk mengisi getaran iman dari kekhusyu’an.
=Agar getaran jiwa tidak tertutup lagi, lakukanlah dzikrullah dalam setiap kesempatan =

4. Berdzikir kepada Allah dalam setiap keadaan akan membantu anda dalam membuka hijab yang terasa sulit ditembus. Dengan berdzikir kepada Allah hati menjadi tenang.
Ketenangan jiwa itulah anda akan mampu melepaskan jiwa anda menuju kehadirat ilahi dengan sangat mudah.


LATIHAN TAHAP KEDUA

Jika telah sampai, harap beritahu (Timnya Abu Sangkan). Insya Allah akan kami kirimkan latihan berikutnya


Segala puji bagi Tuhan semesta alam

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah . Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo'a:
"Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni'mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri". (Al Ahqaaf 46:15)


Hhmmmmmm.....
Bukunya bisa didapatkan di mana-mana....
Semoga kita bisa belajar untuk menerapkan dan mendirikan shalat serta menikmati saat-saat shalat kita. Amiin

Labels:

Shalat Wajib





SHALAT WAJIB


Amalan pertama yang dilihat oleh Allah pada hari kiamat adalah shalat. Kalau shalatnya selalu di awal waktu, khusu’, dan tidak pernah ditinggalkan maka amalan yang lain dianggap baik. Namun, kalau sering shalat di akhir waktu atau bahkan meninggalkan shalat maka amalan yang lain dianggap buruk (H.R. Thabrani).

Sebelum melaksanakan shalat, tubuh harus bersih dari najis, berwudlu (HR Bukhari, Muslim, Abu Daud, dan Tirmidzi), serta menutup aurat (HR Muslim)


TATA CARA SHALAT

1. Niat
Hal pertama yang harus dilakukan ketika melaksanakan shalat adalah berniat. Ini penting karena setiap amal itu bergantung niat (HR Bukhari Muslim). Niat tidak perlu diucapkan, cukup dalam hati saja bahwa kita berniat shalat

2. Berdiri dan Menghadap Kiblat
Shalat harus dilakukan sambil berdiri dan menghadap kiblat (HR Bukhari). Namun, kalau tidak bisa berdiri karena sakit, shalat bisa dilaksanakan sambil duduk atau berbaring (HR Bukhari). Begitu juga ketika kita sedang dalam perjalanan yang tidak memungkinkan berhenti untuk shalat, kita boleh shalat menghadap arah melajunya kendaraan.

3. Takbiratul Ihram
Caranya, mengangkat kedua tangan sejajar dengan bahu sambil mengucapkan takbir (HR Bukhari, Muslim, dan Baihaqi).
Allahu akbar, artinya: Allah Maha Besar
Setelah itu bersedekap. Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri (HR Ahmad dan yang lainnya. Kata Imam Nawawi sanad hadis ini adalah sahih)

4. Membaca Doa Iftitah
Salah satunya,
Allahumma baa’idbaini wabaina khathaayaaya kamaa baa’adtabainalmasyriqi walmaghrib, Allahumma naqqinii minkhathaayaaya kamaa yunaqqatstsawbul abyadhu minaddanas, Allahummaghsilnii minkhathaayaaya bitstsalji walmaa I walbarad.
Artinya: Ya Allah, jauhkan antaraku dan antara dosa-dosaku sebagaimana Engkau jaukan timur dan barat. Ya Allah bersihkan segala kesalahanku sebagaimana dibersihkan kotoran dari kain yang putih. Ya Allah cucilah kesalahanku dengan salju, air dan embun (HR Bukhari dan Muslim).

5. Membaca Al Fatihah
Khusus pada rakaat pertama, kita diharuskan membaca ta’awudz sebelum membaca surat Al Fatihah (QS. An-Nahl 16:98)
Membaca surat Al Fatihah dalam shalat hukumnya wajib. Kalau tidak dibaca, shalat dianggap tidak sah (HR al-jama’ah). Selesai membaca surat Al Fatihah, jangan lupa mengucapkan amiin artinya, perkenankanlah (kabulkanlah) doa kami (HR Bukhari).

6. Membaca Surat
Untuk rakaat pertama dan kedua, disunahkan membaca surat dalam Al Quran setelah membaca Al Fatihah (HR Bukhari, Muslim, dan Abu Daud)

7. Ruku
Angkat kedua tangan sampai sejajar dengan bahu sambil mengucapkan Allahu Akbar (HR Tirmidzi). Setelah itu, bungkukkan badan. Kedua tangan mencengkeram kedua lutut (HR Ahmad, Abu Daud, dan Nasa’i). Kepala tidak terlalu menunduk dan juga tidak terlalu menengadah (HR Muslim). Pada saat sujud, kita membaca salah satu doa berikut ini.
Subhaanaka Allahumma Rabbanaa wabihamdika Allahummaghfirlii
Artinya: Maha suci Engkau ya Allah dan dengan memuji-Mu ya Allah mohon ampuni dosa-dosa kami (HR Bukhari, Muslim, dan Ahmad)
Doa ini cukup dibaca satu kali
Atau
Subhaana Robiyal’azhiimi
Artinya: Maha suci Tuhanku Yang Maha agung (HR Muslim)
Doa ini dibaca tiga kali

Setelah itu bangkit, angkat tangan sejajar bahu sambil mengucapkan
Sami’allahuliman hamidah
Artinya: Semoga Allah memperhatikan (memperkenankan) doa orang yang memuji-Nya (HR Ibnu Khuzaimah)
Kemudian badan kembali tegak

8. I’tidal
Dalam posisi berdiri tegak, ucapkan doa I’tidal
Rabbanaalakalhamdu
Artinya: Ya Tuhan kami, kepunyaan-Mu segala puji (HR Bukhari)

9. Sujud
Ketika badan bergerak dari posisi berdiri ke posisi sujud, kita membaca Allahu Akbar. Pada saat sujud, terlebih dahulu jatuhkan kedua lutut ke lantai sebelum kedua telapak tangan (HR Ibnu Khuzaimah). Selain kedua lutut dan kedua telapak tangan, anggota tubuh yang menempel ke lantai pada saat sujud adalah wajah dan kedua ujung telapak kaki (HR al-jama’ah kecuali Bukhari). Pada saat sujud, kita membaca salah satu do’a ini.
Subhaanaka Allahumma Rabbanaa wabihamdika Allahummaghfirlii
Artinya: Mahasuci Engkau ya Allah dan dengan memuji-Mu ya Allah mohon ampuni dosa-dosa kami (HR Bukhari, Muslim, dan Ahmad).
Doa ini dibaca satu kali.
Atau
Subhaana Rabiyala’laa
Artinya: Maha suci Tuhanku yang Maha tinggi (HR Muslim dan Ahmad)
Doa ini dibaca tiga kali

10. Duduk di Antara Dua Sujud
Bangkit dari sujud sambil mengucapkan Allahu Akbar. Setelah itu duduk di antara dua suud. Caranya, duduk di atas telapak kaki kiri, sementara telapak kaki kanan tegak di atas ujung jari-jarinya. Kedua telapak tangan berada di atas kedua lutut. Setelah itu membaca salah satu doa berikut ini.
Rabbighfirlii Rabbighfirlii
Artinya: Wahai Tuhanku, semoga Engkau mengampuni aku. Wahai Tuhanku, semoga Engkau mengampuni aku (HR Nasa’i)
Atau
Allahummaghfirlii warhamnii wajburnii wahdinii warzuqnii
Artinya: Wahai TUhanku, semoga Engkau mengampuniku, mengasihiku, mencukupiku, memimpinku, dan memberi rezeki kepadaku (HR Tirmidzi)
Setelah it, bergerak untuk melakukan sujud sekali lagi sambil membaca takbir, Allahu Akbar. Bacaan dan gerakan sama seperti sujud sebelumnya.

11. Tasyahud Awal
Bangkit dari sujud sambil membaca Allhu Akbar. Cara duduk bertasyahud awal adalah duduk di atas telapak kaki kiri, sementara telapak kaki kanan tegak di atas ujung jari-jarinya (HR Bukhari). Pada saat tasyahud, Rasulullah membuat isyarat dengan jari telunjuk tangan kanannya. Jari telunjuk tersebut boleh digerak-gerakkan (HR Ibnu Khuzaimah) dan boleh juga tidak (HR Muslim)

12. Tasyahud Akhir
Bangkit dari sujud sambil membaca Allahu Akbar. Cara duduk bertasyahud akhir adalah telapak kaki kanan tegak di atas ujung jari-jarinya. Kaki kiri diletakkan di bawah kaki kanan sehingga kita bisa duduk di atas lantai (HR Ahmad). Posisi jari telunjuk sama dengan tasyahud awal.
Doa tasyahud awal dan tasyahud akhir sama, hanya yang berbeda posisi duduknya saja.
Attahiyyaatulillaahi washshalawaatu paththayyibaatu Assalaamu’alaika ayyuhannabiyyu warahmatullahi wabarakatuh. Assalamu’alainaa wa’alaa ‘ibaadillahishshaalihiin. Asyhadu allaa ilaaha illallahu wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuulullah
Artinya: Segala kehormatan milik Allah, demikian juga segala kemuliaan dan kebaikan. Semoga Allah melimpahkan kesejahteraan kepadamu, wahai nabi, demikian pula rahmat Allah dan berkah-Nya. SEmoga pula kesejahteraan itu dicurahkan atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersakisi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya (HR Bukhari).
Dilanjutkan dengan membaca shalawat.
Allahumma shalla ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad kamaa shallaita ‘alaa aali ibraahiim wabaarik ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali muhammad kamaa baarikta ‘alaa aali ibraahiim fil ’aalamiina innaka hamiidummajiid
Artinya: Ya Allah, berilah shalawat kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad sebagaimana Engkau member shalawat kepada keluarga Ibrahim. Dan berilah barokah kepada kepada Nabi Muhammad dan kepada keluarga Nabi Muhammad sebagaimana engkau member barokah kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha agung (HR Muslim)

13. Salam
Caranya adalah dengan menengokkan wajah ke sebelah kanan dan kiri (HR Muslim) sambil mengucapkan
Assalaamu’alaikum warahatullahi wabarakaatuh
Artinya: mudah-mudahan kesejahteraan (tercurah dari Allah) atas kamu, begitu juga rahmat dan karunia-Nya (HR Abu Daud)



ZIKIR SETELAH SHALAT

Berikut dijelaskan urutan serta bacaan zikir seperti dicontohkan Rasulullah SAW. (HR Muslim)

1. Istighfar 3 kali
Astaghfirullahal’azhiim
Artinya: aku mohon ampun kepada Allah SWT Yang Maha agung

2. Membaca doa di bawah ini
Allahumma antassalaamu waminkassalaamu tabarakta yaa dzaljalaali walikraam
Artinya: Ya TUhanku. Engkau adalah pemberi selamat dan dari Mu-lah keselamatan itu. Maha suci Engkau wahai Dzat Maha agung dan Maha Pemurah (HR Muslim).

3. Membaca tasbih, tahmid, dan takbir, masing-masing 33 kali
Subhanallah, artinya: Maha suci Engkau ya Allah
Alhamdulillah, artinya: Segala puji bagi Allah
Allahu Akbar, artinya: Allah Yang Maha Besar

4. Membaca tahlil
Laa ilaaha illallahu wahdahulaa syarikalahu lahulmulku walahulhamdu wahuwa ‘alaa kulli syai in qadiir
Artinya: Tidak ada Tuhan kecuali Allah SWT. Yang Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan ini dan bagi-Nya pula segala puji. Dia adalah Mahakuasa atas segala sesuatu (HR Bukhari).



SHALAT JUMAT

Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jumat, bergegaslah kamu (memenuhi seruan) untuk mengingat Allah dan tinggalkan jual-beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui (QS Al Jumu’ah 62:9)

Ayat ini diawali dengan dengan Hai orang-orang yang beriman. Kalimat ini menunjukkan bahwa shalat Jumat hukumnya wajib bagi laki-laki maupun perempuan karena menggunakan panggilan umum, sama halnya seperti kewajiban shaum yang menggunakan panggilan umum, Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kamu berpuasa (QS Al Baqarah 2:183)

Diriwayatkan dari Thariq bin Sihab ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, Jumat itu kewajiban setiap muslim dengan berjamaah kecuali kepada empat (golongan) budak, perempuan, anak-anak dan orang sakit (HR Abu Daud).

Berdasarkan pengecualian ini maka yang terkena kewajiban shalat Jumat adalah laki-laki, sementara kaum perempuan tidak wajib melaksanakannya, tetapi tetap shalat zuhur.

Rasulullah SAW mencontohkan agar mandi besar, memakai pakaian yang layak, dan memakai wangi-wangian apabila akan melaksanakan shalat Jumat (HR Ahmad). Saat masuk masjid, kita dianjurkan melaksanakan shalat dua rakaat sebelum duduk, shalat ini disebut tahiyatul masjid. Lalu mendengarkan khutbah dengan seksama. Tidak dibenarkan bicara apapun apabila khatib telah naik mimbar. Rasulullah SAW bersabda, Apabila kamu berkata kepada sahabatmu pada waktu Jumat “Diam!” padahal imam sedang khutbah maka telah sia-sia (shalat) Jumatnya (HR Bukhari dan Muslim).



Sumber: Agenda Percikan Iman 2008, Panduan Ibadah

Labels: